Gula merah yang telah rusak atau lembek kadang oleh para pengrajin gula merah akan di daur ulang lagi sehingga dapat dijual kembali. Entah gula merah/gula jawa murni atau memang gula sudah campuran gula pasir. Teknik daur ulang gula merah tidaklah sulit simak cara dari membuat.info.

Secara umum gula merah yang layak konsumsi adalah gula merah yang keras, berwarna merah dan tidak hitam, wujud murni tanpa adanya kapur putih (doreng), rasanya manis, akan tetapi akibat dari beberapa faktor kadang diperoleh hasil gula merah yang lembek, wujud doreng, warna hitam pekat, dan berasa pahit. Gula merah yang di kategorikan tersebut termasuk gula merah tidak layak konsumsi. Akibatnya para petani gula merah mengalami kerugian karena gula merah tersebut tidak layak di pasarkan.

teknik daur ulang gula merah

Alat-alat yang diperlukan untuk teknik daur ulang gula merah:

1. Potongan ruas bambu yang berukuran 1,5-2 cm sebanyak 1.000 potong. Bambu yang dipotong diusahakan yang masih hijau agar tidak sulit memotongnya. Diameter sekisar 5-7 cm (ukuran kecil-sedang). Fungsinya untuk mencetak gula.
2. Beberapa lembar kayu tripleks yang tidak terpakai, fungsinya untuk menyimpan cetakan/potong bambu, bisa juga potongan papan.
3. Entong panjang yang terbuat dari bambu atau kayu untuk mengocek.
4. Wajan besar yang dapat memuat l.k. 12 kg gula merah.
5. Tampir (Sunda: Nyiru) untuk menjemur atau memotong gula hasil cetakan. Bisa juga menggunakan sasag/bilik bambu.
6. Kompor

Bahan yang diperlukan untuk teknik daur ulang gula merah:

1. Gula BS/rusak 12 kg
2. Gula putih 1/2 kg
3. Tepung Asia 1/2 kg
4. Air secukupnya.

Cara mengolahnya:

1. Cairkan gula putih ditambah sedikit air, sampai mendidih.
2. Masukkan gula merah sampai mencair.
3. Masukkan tepung sambil diaduk hingga rata.
4. Sesudah tepung Asia dan gula merah bercampur hingga tidak terlihat warna putih, kecilkan kompornya.
5. Dengan bantuan scan plastik/kendi kecil, masukkan gula yang masih panas ke dalam cetakan gula yang telah disusun pada lembaran kayu papan. Sebaiknya, potongan bambu atau cetakan gula dimasukkan ke dalam air bersih agar gula yang sudah tercetak mudah dilepas.
6. Sesudah cairan gula dituangkan pada cetakan gula, siapkan tampir/sasag.
7. Sesudah gula yang tercetak dingin, lepaskan dari bambu cetakan dan disusun pada tampir/sasag.
8. Perhatikan pada waktu menyusun gula, gula yang basah disimpan di atas dan bagian yang kering di bawah.
9. Jika tidak hujan, gula harus dijemur hingga kering dan harus dibolak-balik.
10. Jika hari hujan, gula bisa dikeringkan dengan cara menggarang diatas kompor dengan api kecil dengan tinggi 1 m.

Cara menggarang:

1. Siapkan tempat untuk menumpuk sasag atau tampir berisi gula yang telah disusun. Usahakan agar tidak terganggu oleh kegiatan lain.
2. Tempat menumpuk tampir atau sasag diusahakan dibuat terlebih dahulu dengan rangka kayu atau bambu dengan panjang 1,5 m, lebar 1 m, dan tinggi 1 m.
3. Tiap tumpukan hendaknya diganjal pada ujung-ujungnya sehingga gula tidak tertindih.
4. Agar cepat kering, sebaiknya ditutup dengan kain atau kertas.
5. Kompor yang disimpan di bawah sasag atau tampir, dinyalakan dengan api yang kecil dengan waktu 2-3 jam

Similar Posts