kriteria saham yang baik

Kriteria Saham Yang Baik – Sudah menjadi informasi umum kalau saham adalah salah satu pilihan investasi yang memberikan keuntungan yang besar (high return). Keuntungannya diberikan dalam bentuk capital gain maupun dividen.

Memang dari segi keuntungan, saham merupakan investasi yang menggiurkan. Namun, di balik keuntungan tersebut tersimpan risiko capital loss. Maka dari itu simpanlah di brankas. Lalu bagaimanakah cara menabung saham yang baik? Simak penjelasan kriteria saham yang baik berikut ini.

Kriteria Saham Yang Baik Untuk Investasi Jangka Panjang

kriteria saham yang baik

1. Harga Produknya Murah

Terkait hal ini sudah kita bahas diatas. Harga produk yang murah juga menyebabkan produk tersebut menjadi terjangkau oleh semua kalangan. Sehingga pangsa pasarnya otomatis lebih luas ketimbang produk dengan harga jual yang lebih tinggi.

Namun apakah ‘produk murah’ selalu berarti barang-barang consumer goods seperti sabun mandi dan sabun cuci piring? Untungnya nggak juga.

Ketika anda membuka rekening tabungan di bank, kemudian anda dibebankan biaya administrasi yang hanya sebesar Rp15,000-an per bulan. Maka juga bisa dikatakan bahwa layanan perbankan termasuk produk yang harganya murah.

Ketika anda menonton televisi di rumah dan memperoleh banyak sekali tayangan-tayangan film dll secara gratis, dan sebagai gantinya anda hanya perlu menyaksikan iklan. Maka perusahaan stasiun televisi/media juga merupakan perusahaan dengan harga produk yang murah.

Dan ketika anda membayar biaya sebesar seratus ribuan  per bulan untuk membeli pulsa telepon dan internet (untuk anak-anak sekolah, ada juga paket seharga Rp25,000 per bulan) maka perusahaan telekomunikasi juga termasuk perusahaan yang menghasilkan produk murah.

2. Dibutuhkan Orang Banyak Secara Terus Menerus

kriteria saham yang baik

Pernahkah anda membeli lem superglue, misalnya untuk memperbaiki sandal jepit yang putus? Penulis kebetulan pernah. Harganya? Murah, cuma enam ribu Rupiah di toko bangunan.

Tapi jika anda kemudian bertanya seberapa sering penulis membeli lem tersebut. Jawabannya adalah penulis seumur-umur hanya pernah membelinya sebanyak satu kali itu saja.

Malah setelah memperbaiki sandal tadi sisa lemnya masih cukup banyak, sehingga jika nanti sandalnya putus lagi, maka penulis masih bisa pakae lem yang itu saja, alias gak perlu beli lagi.

So, meski harga produknya sama-sama murah, namun dalam hal ini jelas bahwa omzet penjualan produk lem diatas tidak akan selancar omzet penjualan sabun mandi atau Indomie. Semua orang tentu perlu mandi, namun tidak semua orang harus memperbaiki sesuatu dengan lem.

Dan jika orang-orang perlu mandi setiap hari, maka ketika seseorang harus memperbaiki sandal menggunakan produk lem tersebut (seperti penulis tadi), namun orang tersebut tidak akan memperbaiki sandalnya setiap hari.

Poin dibutuhkan orang banyak secara terus menerus ini. Dalam beberapa kasus terkadang lebih penting dalam menentukan konsistensi kinerja perusahaan yang memproduksi produk yang bersangkutan dalam jangka panjang, ketimbang sekedar harga produk yang murah.

Contohnya anda mungkin tahu bahwa investasi di pom bensin. Meski membutuhkan nilai investasi yang tinggi serta juga tidak menawarkan break even point dalam waktu singkat, namun menawarkan pendapatan yang konsisten serta risiko yang rendah.

3. Bisa Diproduksi Secara Massal Dengan Biaya Yang Rendah

Ketika membuat sebuah produk memenuhi syarat harga yang terjangkau oleh semua kalangan, serta dibutuhkan orang banyak secara terus menerus, maka produk tersebut hanya membutuhkan satu syarat lagi untuk bisa menghasilkan omzet penjualan yang besar bagi perusahaan yang bersangkutan, yakni: Bisa diproduksi dalam jumlah massal.

Sebab jika sebuah perusahaan tidak mampu memproduksi produknya dalam jumlah yang banyak, maka bagaimana mungkin omzet penjualannya bisa menjadi besar?

Tapi untungnya syarat yang ini mungkin tidak terlalu penting untuk diperhatikan mengingat untuk barang-barang yang sifatnya pabrikan (dibuat di pabrik). Seperti barang-barang elektronik, obat-obatan, rokok, semen dan lain lain, maka barang tersebut hampir pasti bisa diproduksi secara massal.

Jika produk tersebut bersifat jasa, seperti misalnya jasa perbankan, maka jumlah produksinya bisa lebih massal lagi.

Untuk menyediakan layanan perbankan di suatu kecamatan, misalnya, maka sebuah bank cukup membuka kantor cabang disitu, dan selanjutnya tinggal pintar-pintar tim marketingnya saja dalam memasarkan produk tabungan dan kredit ke masyarakat sekitar.

Namun ketika sebuah produk bisa diproduksi secara massal, sehingga omzet penjualannya menjadi besar, maka itu bukan berarti laba perusahaan otomatis menjadi besar pula.

Pendapatan yang besar dari penjualan sebuah produk hanya akan menghasilkan laba yang besar. Jika biaya produksinya terkendali atau kalau bisa sekecil-kecilnya, sehingga kemudian diperoleh margin laba bersih yang besar.